Gendhing Gati Mardika - Fyi Jogja

Breaking

For your information Jogja!

Senin, 17 Agustus 2020

Gendhing Gati Mardika

 Gendhing Gati Mardika


Pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939) penciptaan Gendhing Gati dapat dikatakan sudah mencapai puncaknya dan berjumlah 48 gendhing. Namun semenjak Surud Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, tidak ada lagi penciptaan Gendhing Gati. Terhentinya penciptaan Gendhing Gati di lingkungan Keraton ini, membuat Sri Sultan Hamengku Bawana Ka-10 paring dhawuh kepada Penghageng KHP Kridhomardowo, KPH Notonegoro, untuk melakukan penciptaan Gendhing Gati Yasan Dalem dalam rangka menyambut hari kemerdekaan. 

Setelah menerima dhawuh dari Sri Sultan Hamengku Bawana Ka-10, KPH Notonegoro nimbali (memanggil) MW Susilomadyo untuk segera memulai proses penciptaan Gendhing Gati Yasan Dalem, yang diberi nama Gendhing Gati Mardika. Gendhing ini bertujuan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75. Selain itu, inspirasi awal penciptaan ini adalah sebagai sebuah bentuk dukungan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Dukungan tersebut dinyatakan dengan dikeluarkannya amanat 5 September 1945 yang berisi pernyataan mengenai bergabungnya Kasultanan Yogyakarta ke Republik Indonesia.

Semangat kemerdekaan terus berlanjut dengan disampaikannya tawaran Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada Presiden Soekarno mengenai kesediaan Yogyakarta menjadi Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1946-1949. Dalam pidatonya, Bung Karno mengatakan bahwa Yogyakarta termasyur karena jiwa-jiwa kemerdekaannya, Hiduplah terus jiwa-jiwa kemerdekaan itu”. Semangat kemerdekaan inilah yang kemudian melatarbelakangi Gendhing Gati baru diberi nama Gendhing Gati Mardika.

Dari 48 Gati yang ada di Keraton, Gendhing Gati Mardika ini memiliki ciri khas yang membedakan dengan Gati lainnya, yaitu:

Gati Mardika merupakan satu-satunya gati dengan laras pathet enem seleh pada nada 3. Dalam karawitan gaya Yogyakarta, nada 3 berarti Dhadha (dada). Didalam dadalah semangat patriotisme dan nasionalisme ditanamkan. Seleh 3 ini juga terinspirasi dari Gendhing Sarayuda. Sara berarti anak panah yang tajam dan yuda berarti perang. Sehingga gendhing ini juga dipersembahkan kepada pejuang yang telah merelakan hidupnya melawan penjajah seperti halnya anak panah yang melesat di medan perang.

Gati Mardika ini memiliki jangkauan nada yang paling luas pada laras pelog, yaitu nada 1,2,3,4,5,6,7. Hal ini menjadi simbol keberagaman yang ada di Indonesia, baik suku, agama, ras, golongan, dan bahasa yang saling menghormati serta hidup berdampingan

Jika Gendhing Gati pada umumnya, instrumen tiup logam dimainkan secara unison dan mengikuti pola balungan pada gamelan. Sementara didalam Gendhing Gati Mardika terdapat beberapa bagian yang terjadi pemecahan nada dan membentuk harmoni. Hal tersebut menjadi simbol mengenai kebebasan sekaligus sebagai lambang bahwa perbedaan itu indah

Penambahan instrumen perkusi piatti atau hand cymball. Penambahan piatti ini sekaligus melambangkan tentang keterbukaan akan hal baru yang mendatangkan keindahan ataupun keserasian

Dari semua uraian diatas, Gendhing Gati Mardika ini diharapkan mampu menggugah semangat nasionalisme dan semangat untuk menjaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu alasan diluncurkan Gendhing Gati adalah untuk membuka kesempatan berkolaborasi antara Gamelan dan Musik Barat.


Sumber tulisan;

Wawancara dengan MW Susilomadyo pada 29 Juli 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar